Minggu, 08 Mei 2016



Anak Bungsu
Oleh : Indah Yulianti

Pagi ini matahari  bersinar cerah. Tak ada arak-arakan awan di langit biru. Ayam jago berbunyi. Burung-burung beterbangan di langit biru. Di kejauhan, ilalang tengah menari-nari. Indahnya.... Menunjukkan udara pagi yang sepoi-sepoi.
Pagi itu aku  berada di sebuah rumah sederhana yang terletak di wilayah pedalaman kota, ada percakapan sederhana antara aku dan bapak.Tapi sebelmnya aku ingin menceritakan sedikit ceritaku. ini ceritaku.
Setiap hari aku bekerja. Pekerjaanku mengajar  anak-anak yang belum bisa membaca. Memang tidak seberapa upah yang diberikan orang tua mereka kepadaku. Aku merasa mengajar hal yang menantang bagiku. Karena melihat karakter anak-anak yang berbeda-beda. Membuat aku penasaran dengan mereka dan salah satunya adalah untuk belajar gimana nanti kalau sudah punya anak. hehehe...
Ibuku telah meninggal dunia ketika aku SMP bahkan bapak juga telah pensiun dari pekerjaannya. Aku adalah anak terakhir dari sembilan bersaudara. wiiih banyak ya...
Memang aku memiliki banyak saudara. Namun, saudaraku kini telah menikah semua dan memiliki kehidupan masing-massing. Tak mungkin aku dan bapak harus hidup dengan belas kasih orang. Untuk itu aku mengajar anak-anak. Dan percakapanpun terjadi
“Pak, aku mau kuliah” ujarku kepada bapak.
“Kuliah nduk? Sudahlah, nggak usah aneh-aneh mau pake kuliah segala. Kuliah itu biayanya mahal. Bapak nggak punya uang buat kuliahmu nanti.” Balas bapakku.
“Aku mau kuliah kayak teman-teman. aku pengen jadi sarjana pendidikan pak.” Kataku.
“Lawang kowe wis sekolah sampai SMA, bapak wis bersyukur banget meskipun rasane yo berat biayane.” Ujar bapakku.
“kan bisa nyari beasiswa pak.. Pas kuliah aku mau nyari uang sendiri buat biaya kuliah dan biaya sehari-hari. Yang penting bapak ngerestui aku untuk kuliah.” Pintaku.
“Yowes karepmulah kalau niatmu memang mau kuliah, bapak nggak bisa melarang” jawab bapakku.
Alhasil aku kemudian mencoba mendaftarkan diri masuk perguruan tinggi yang aku inginkan. Mulai dari seleksi dengan rapot aku ikuti namun belum berhasil.
Bapak hanya bisa berdoa dan mendukung, kemudian seleksi dengan ujian tulis ku ikuti, aku pilih jurusan yang aku sukai yaitu sastra. Dan keterimalah aku di salah satu perguruan tinggi di Kalimantan.